Pameran seni video "Thang Duong Nhap That", yang diselenggarakan di ruang kuliah Nguy Nhu Kon Tum, Universitas Nasional Hanoi, telah menghadirkan angin segar, menghidupkan kembali mahakarya seni rupa Indochina. Terinspirasi oleh lukisan klasik karya Victor Tardieu, karya ini tidak hanya menciptakan kembali masa lalu, tetapi juga mengajak pengunjung dalam perjalanan penemuan sejarah dan budaya yang mendalam. Perpaduan teknologi modern dan seni klasik telah mengubah ruang pameran menjadi persimpangan magis antara waktu dan emosi.
Lukisan asli karya Victor Tardieu, berukuran 11x7m, merupakan mahakarya minyak yang diselesaikan pada awal abad ke-20. Lukisan ini pernah berdiri megah di Universitas Indochina, yang kini menjadi ruang kuliah Nguy Nhu Kon Tum. Karya ini dianggap sebagai dokumen sejarah yang berharga, merekam periode penuh gejolak di Vietnam. Dalam setiap garis halusnya, Tardieu menggambarkan lebih dari 200 karakter dengan memperhatikan setiap detail kecil seperti kostum, adat istiadat, alat transportasi, dan arsitektur. Lukisan ini mencerminkan pertukaran budaya antara Timur dan Barat secara mendalam sekaligus merupakan gambaran nyata masyarakat Vietnam di masa transformasi yang kuat. AI membantu menciptakan kembali gambar dalam lukisan dengan jelas. Foto: Vien Hong Quang
Berkat perkembangan kecerdasan buatan, lukisan kini direproduksi lebih realistis dan hidup dari sebelumnya. Dari foto hitam putih asli, tim menerapkan AI untuk mempelajari warna dari lukisan cat minyak asli, menciptakan kembali gambar dengan akurasi tertinggi. Seni video dan animasi dipadukan dengan apik, menghidupkan setiap karakter dan setiap adegan, menghidupkan kembali dunia yang seolah terkubur oleh waktu. Teknologi telah mengubah lukisan statis menjadi ruang hidup, di mana setiap gerakan menceritakan sebuah kisah, setiap warna membangkitkan kenangan lama.
Namun, sebagaimana ditegaskan para ahli, teknologi tidak dapat menciptakan kembali segala sesuatunya dengan sempurna. Proses restorasi membutuhkan kerja sama kecerdasan manusia, mulai dari penyediaan data historis yang akurat hingga analisis dan pemilihan detail yang paling halus. Menurut Dr. Tran Hau Yen The, lukisan ini tidak hanya berhenti pada peran seni, tetapi juga mengandung kisah-kisah mendalam tentang masyarakat, manusia, dan budaya di awal abad ke-20. Penelitian yang cermat terhadap kostum, pangkat, dan konteks sejarah telah membantu para seniman membentuk kembali lukisan ini secara realistis, sekaligus mempertahankan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Dosen Sekolah Ilmu dan Seni Interdisipliner, Universitas Nasional Vietnam, Hanoi, Dr. Tran Hau Yen The, berbagi dalam seminar tersebut. Foto: Baomoi
Pameran "Thang Duong Nhap That" merupakan upaya untuk menghidupkan kembali mahakarya seni rupa, sekaligus membuka pintu bagi eksplorasi nilai-nilai budaya yang terpendam dalam sejarah. Perpaduan seni dan teknologi menciptakan perjalanan melintasi waktu, membawa pengunjung menelusuri lapisan-lapisan kenangan, yang setiap lapisannya mengandung pesan tentang pengetahuan, pertukaran budaya, dan semangat kreatif. Karya ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, membantu generasi masa kini untuk lebih memahami akar mereka dan lebih menghargai nilai-nilai yang ditinggalkan oleh para leluhur.
"Thang Duong Nhap That" bukan sekadar pameran seni, melainkan pengingat mendalam akan misi pelestarian warisan budaya. Teknologi modern telah berkontribusi dalam menghadirkan kembali nilai-nilai yang tampaknya telah pudar kepada publik, tetapi justru persahabatan antara pengetahuan dan hasrat manusialah yang menjadi faktor penentu. Pameran ini mengagungkan seni dan sekaligus menegaskan bahwa warisan budaya, terlepas dari berbagai pasang surutnya, tetap menjadi obor terang yang menerangi jalan generasi-generasi berikutnya.
Komentar (0)