1. Suatu sore sepulang sekolah, seperti sudah menjadi kebiasaan, Nhat Minh, siswa kelas 11 SMA di Distrik 3 (HCMC), langsung berlari ke dapur untuk melihat apa yang sedang dimasak ibunya hari ini. Tidak seperti hari-hari lainnya, meja makan kosong, dapur sunyi, tanpa omelan ibunya seperti biasa. Minh dengan lesu naik ke atas, membuka pintu kamar ibunya, dan melihat ibunya terbaring lelah di tempat tidur. Mendengar Minh masuk, Thanh Hien - ibu Nhat Minh, berteriak dari luar pintu: "Ibu meninggalkan 500.000 VND di mejamu. Ibu tidak memasak hari ini, ambil uangnya dan pesan makanan." Tidak ada jawaban dari putranya. Pintu tertutup pelan. Thanh Hien tertidur pulas tanpa tahu kapan.
Terkejut setelah tidur sebentar, Ibu Thanh Hien membuka pintu dan melangkah keluar. Suami dan anak-anaknya sudah makan malam di luar, tetapi tidak ada yang bertanya apa yang ingin ia makan atau membelikannya makanan. Tubuhnya kelelahan karena demam tinggi, jantungnya terasa seperti diremas, dan air mata tiba-tiba mengalir di wajahnya yang pucat. Merasa sedih atas putra tunggalnya, Ibu Thanh Hien lebih menyalahkan suaminya atas ketidakpeduliannya, tidak menanyakan atau mengkhawatirkan kesehatan istrinya. Ketika cinta dan perhatian datang dari satu pihak, ikatan antar anggota keluarga menjadi longgar. Tradisi baik "ketika seekor kuda sakit, seluruh kandang berhenti makan" tidak lagi berlaku di banyak keluarga modern, di mana setiap anggota terikat erat dengan ponsel mereka, dan kata-kata untuk saling bertanya dan peduli perlahan-lahan menjadi semakin jarang. Kebiasaan itu menyebar ke hubungan di luar keluarga seperti kerabat, teman, dan rekan kerja, menyebabkan orang-orang perlahan-lahan kehilangan minat dan pengertian, menjadi dingin dan acuh tak acuh ketika melihat kesulitan orang-orang di sekitar mereka.

2. Saat istirahat di sebuah SMP di Distrik 1 (HCMC) baru-baru ini, saat asyik bermain kejar-kejaran dengan teman-teman sekelasnya, seorang siswa kelas 8 menabrak seorang guru perempuan yang sedang berjalan melintasi halaman sekolah. Tabrakan mendadak itu menyebabkan guru tersebut kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di halaman sekolah. Setelah beberapa detik "membeku", siswa tersebut buru-buru lari karena takut namanya tertulis di sana dan poin perilakunya dikurangi. Sekelompok siswi yang berdiri di dekatnya bergegas membantunya berdiri dan mengambil tumpukan dokumen yang berserakan di halaman sekolah. Sekembalinya ke ruang guru, yang paling membuat guru tersebut kesal bukanlah goresan di kakinya, melainkan sikap siswa tersebut setelah tabrakan. Seandainya saja siswa tersebut meminta maaf, tidak akan ada rasa kesal atau kekhawatiran.
Dalam hubungan guru-murid, pola pikir "Tanpa guru, kamu tidak bisa apa-apa" perlahan-lahan tergantikan oleh "Jika kamu ingin anak-anakmu pandai membaca, kamu harus mencintai guru mereka". Dalam hal ini, kata "cinta" dipahami dalam arti baru sebagai "dahulu, baru belakangan" dengan cara yang adil dan saling menguntungkan, bukan makna sebelumnya yaitu menghormati dan menghargai guru. Terlihat bahwa "budaya amplop" dan penekanan berlebihan pada tujuan "Menempatkan murid sebagai pusat" telah menyebabkan citra guru kehilangan makna luhurnya di mata segelintir orang.
Dulu, orang tua harus membungkuk kepada guru saat masuk sekolah, meskipun guru tersebut lebih muda daripada orang tua siswa. Namun kini, dalam banyak pertemuan orang tua, guru-guru membungkuk kepada orang tua dengan mudah terlihat. Setelah pertemuan berakhir, orang tua akan dikirimi tautan untuk mengevaluasi kualitas pertemuan, meskipun mereka menghabiskan seluruh waktu di ponsel. Banyak keluarga yang sepenuhnya mempercayakan tanggung jawab membesarkan dan mendidik anak kepada sekolah. Hubungan antara guru dan orang tua, dan lebih luas lagi, antara sekolah dan keluarga, telah berubah, yang secara tak terlihat berdampak negatif pada pola pikir anak-anak.
3. Perubahan konteks sosial menjadi kendala dalam melestarikan nilai-nilai budaya tradisional bangsa yang luhur. Tidak dapat dipungkiri bahwa integrasi memberikan dampak positif bagi setiap individu dalam masyarakat, seperti peningkatan kemandirian, kreativitas, dan kemampuan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, agar tujuan pembangunan tidak menyimpang jauh dari kewajiban melestarikan jati diri budaya bangsa, peran keteladanan di masyarakat perlu digalakkan. Khususnya, keluarga—lingkungan budaya pertama anak—perlu memelihara kebiasaan berperilaku yang baik dan membangun fondasi kepribadian yang baik bagi mereka. Selanjutnya, sekolah, dan secara lebih luas, masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk membina dan membantu generasi muda menyempurnakan kepribadiannya, menjadi pribadi yang berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/giu-truyen-thong-trong-thoi-hien-dai-post799647.html
Komentar (0)