VHO - Setiap Hari Kemerdekaan, 2 September, Sungai Kien Giang yang tenang di Distrik Le Thuy menjadi "panggung" sebuah festival besar - festival balap perahu tradisional. Ini bukan hanya ajang adu kekuatan, tetapi juga hari solidaritas, di mana semangat desa dipersatukan dan kebanggaan terhadap tanah air ditinggikan.
Báo Văn Hóa•30/08/2025
Sejak pagi, kedua sisi sungai ditutupi bendera dan bunga, suara genderang, gong, dan pengeras suara bergema. Orang-orang dari seluruh desa berbondong-bondong datang, membawa kegembiraan dan sorak-sorai antusias. Tak hanya lewat jalan darat, di cabang-cabang sungai pun banyak warga yang menggunakan perahunya untuk menuju lokasi festival demi menyemangati tim kesayangannya. Tak hanya ajang adu kekuatan, festival ini juga menjadi perjalanan panjang persiapan saat tim berlatih tak kenal lelah selama berminggu-minggu dan resmi masuk ke babak penyisihan grup kompetisi (biasanya digelar sekitar 1 minggu sebelum hari kompetisi, 2 September). Ketika pistol berbunyi, anak-anak melepaskan dayung dan berusaha sekuat tenaga menggerakkan perahu mereka maju. Dayung-dayung berdebur kencang di atas air, menciptakan buih putih. Setiap perahu melesat maju bagai anak panah yang menembus ombak, menciptakan pemandangan megah nan puitis di Sungai Kien Giang. Di tepi sungai, para penggemar berkerumun, ada yang berteriak, ada yang bertepuk tangan, ada yang melambaikan bendera, mengubah tepian sungai menjadi "stadion" raksasa. Mereka berirama dengan setiap ayunan dayung, menambah kekuatan para perenang yang mengerahkan segenap tenaga mereka di air. Mereka menggunakan terompet, panci, wajan... atau apa pun yang dapat menimbulkan suara untuk menyemangati anak-anak yang berlomba di sungai. "Khoat Conical Hat" adalah gambaran yang mengesankan dari festival renang Le Thuy. Orang-orang yang berdiri di tepi pantai dapat "khoat" pada topi kerucut untuk menyemangati para perenang. Dan ketika berdiri di air, mereka menggunakan topi ini untuk "khoat" air sungai ke dalam tubuh para perenang agar mereka merasa sejuk. Seorang anak laki-laki, yang kini berusia lebih dari 2 tahun, diajak neneknya menonton lomba perahu. Ia menempelkan bendera di pipinya, dibalut pita sutra, dan memegang bendera nasional untuk menyemangati para perenang. Gambaran ini sekali lagi menegaskan bahwa tradisi lomba perahu di Sungai Kien Giang telah mendarah daging dalam darah masyarakat sejak kecil. Seorang bayi digendong oleh ayahnya untuk menonton perlombaan renang kualifikasi. Mobil dan bendera di tangan merupakan gambaran sekelompok orang yang berlari di sepanjang tepi sungai untuk menyemangati para perenang di sungai. Terlepas dari posisi atau sudut mana pun yang nyaman untuk melihat perahu di kampung halaman mereka, orang akan memilihnya. Tepat di gedung tinggi dekat sungai Bagi perahu balap, setiap perlombaan merupakan ujian berat bagi kekuatan, tekad, dan semangat tim. Keringat tampak jelas di wajah para perenang, otot-otot menegang, dan sorot mata mereka tajam. Mereka bersaing bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk kebanggaan desa dan keluarga mereka. Semua ini, dipadukan dengan teriakan lantang sang komandan, menciptakan kekuatan kolektif yang abadi. Saat perahu mendekati garis finis, suasana di tepi sungai meledak. Sorak sorai dan tabuhan drum menggema di seluruh area. Para penggemar berdiri, mata mereka mengikuti setiap momen menegangkan. Ketika perahu pertama melewati garis finis, tepi sungai bergemuruh dengan sukacita kemenangan. Bendera berkibar, sorak sorai memenuhi udara, banyak orang melompat dan berpelukan bahagia. Di sungai, anak-anak lelaki berenang, mengangkat dayung tinggi-tinggi, senyum cerah mereka bercampur air mata haru. Bagi masyarakat Le Thuy, kemenangan bukan hanya hasil kekuatan dan keterampilan, tetapi juga simbol solidaritas, keberanian, dan keyakinan teguh. Kemenangan adalah kebahagiaan bersama, sebuah bukti vitalitas abadi tanah air tradisional. Festival balap perahu di Sungai Kien Giang, oleh karena itu, melampaui makna olahraga . Ini adalah festival cinta desa dan kebersamaan, serta kebanggaan terhadap budaya rakyat. Meski waktu telah berlalu, gaung festival tersebut masih membekas di sanubari masyarakat Le Thuy, sebagai penegasan bahwa aliran adat dan semangat pantang menyerah senantiasa mengalir dalam nadi tanah air.
Komentar (0)